MEMPAWAH, URRANEWS.ONLINE — Dukungan militer Jepang dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat mulai memasuki tahap operasi. Helikopter berat CH-47 Chinook milik Japan Ground Self-Defense Force (JGSDF) mulai dikerahkan untuk melakukan pemadaman dari udara melalui metode water bombing, Rabu (16/9/2026).
Operasi tersebut baru dapat dimulai setelah kondisi jarak pandang di wilayah Kalimantan Barat membaik. Sebelumnya, kabut asap membuat kondisi penerbangan belum memenuhi persyaratan keselamatan untuk mengoperasikan helikopter.
Komando Komponen Darat Angkatan Darat Bela Diri Jepang atau Ground Component Command (GCC) JGSDF melalui kanal resminya menyampaikan bahwa tim bantuan darurat internasional Jepang mulai menjalankan operasi pemadaman setelah kondisi jarak pandang memungkinkan.
Dalam operasi tersebut, Chinook terlihat membawa perangkat pemadam berupa bambi bucket, kantong air berukuran besar yang digantung di bawah helikopter untuk mengambil air dari sumber air sebelum menjatuhkannya ke area kebakaran.
Tiga Chinook Dibawa dari Jepang Menggunakan JS Kunisaki
Tiga unit CH-47 Chinook dibawa ke Kalimantan Barat menggunakan kapal Japan Maritime Self-Defense Force (JMSDF) JS Kunisaki (LST-4003).
Kapal tersebut tiba di Terminal Kijing, Kabupaten Mempawah, pada 10 September 2026 dengan membawa tiga helikopter yang dipersiapkan untuk mendukung operasi water bombing.
Kementerian Pertahanan RI menyebut pengerahan tersebut merupakan bagian dari dukungan Pemerintah Jepang dalam kerangka Defence Cooperation Arrangement (DCA) Indonesia–Jepang, khususnya kerja sama Humanitarian Assistance and Disaster Relief (HADR).
Selain tiga helikopter Chinook, JS Kunisaki juga membawa dua unit Landing Craft Air Cushion (LCAC) yang disiapkan untuk mendukung mobilitas dan kegiatan logistik dari laut menuju daratan.
Lebih dari 300 personel Jepang turut dikerahkan untuk mendukung misi tersebut, termasuk awak kapal dan personel pendukung operasi.
Kabut Asap Sempat Menghambat Operasi
Meski telah tiba di Kalimantan Barat beberapa hari sebelumnya, helikopter Chinook tidak langsung diterbangkan untuk melakukan pemadaman.
Faktor utama yang menghambat operasi adalah kondisi visibility atau jarak pandang akibat kabut asap.
Sebelum operasi dimulai, kesiapan teknis dan keselamatan penerbangan harus dipastikan melalui tahapan persiapan serta flight test. Kementerian Pertahanan RI menegaskan bahwa penggunaan helikopter disesuaikan dengan kebutuhan dan perkembangan situasi karhutla di lapangan.
Kepala Dinas Syahbandar Kodaeral XII Pontianak Kolonel Laut (P) Iwan Sutrisno sebelumnya juga menjelaskan bahwa helikopter sebenarnya telah siap digunakan, tetapi penerbangan harus menunggu kondisi jarak pandang memenuhi persyaratan keselamatan.
“Heli sebenarnya sudah siap, tinggal visibility saja. Kalau sudah memenuhi syarat, pasti akan melaksanakan kegiatan untuk operasi,” ujarnya, dikutip dari laporan detikKalimantan.
Kubu Raya dan Ketapang Jadi Wilayah Prioritas
Dalam persiapan operasi, sejumlah wilayah di Kalimantan Barat menjadi perhatian karena memiliki titik kebakaran yang membutuhkan dukungan pemadaman dari udara.
Kubu Raya dan Ketapang disebut sebagai wilayah prioritas operasi water bombing. Namun, pelaksanaan penerbangan tetap mempertimbangkan kondisi cuaca, jarak pandang, titik api, serta aspek keselamatan penerbangan.
Kondisi lapangan dapat menyebabkan lokasi operasi berubah mengikuti perkembangan kebakaran.
Karena itu, pengerahan Chinook tidak semata-mata ditentukan berdasarkan jadwal awal, tetapi menyesuaikan dinamika karhutla dan kelayakan penerbangan.
Menhan Sjafrie Tinjau Kesiapan Operasi
Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin sebelumnya meninjau langsung JS Kunisaki yang bersandar di Pelabuhan Internasional Kijing, Kabupaten Mempawah.
Dalam kunjungan tersebut, Sjafrie menerima paparan mengenai kesiapan unsur militer Jepang serta perkembangan persiapan operasi penanganan karhutla.
Menhan juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Jepang atas dukungan tiga helikopter CH-47 Chinook untuk membantu Indonesia menghadapi kebakaran hutan dan lahan.
Kementerian Pertahanan menyebut kolaborasi tersebut merupakan bentuk konkret kerja sama pertahanan dan hubungan bilateral kedua negara.
Operasi Berada di Bawah Koordinasi Indonesia
Dukungan Jepang dalam operasi karhutla tidak berdiri sendiri.
Kementerian Pertahanan RI menjelaskan bahwa operasi tersebut diintegrasikan dengan keseluruhan penanganan karhutla yang dilakukan Pemerintah Indonesia.
Pengawasan operasional helikopter berada pada TNI, termasuk aspek keamanan dan flight clearance. Pada masing-masing helikopter juga ditempatkan Safety Officer TNI, sementara koordinasi misi penerbangan dilakukan bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Dengan mekanisme tersebut, pengerahan Chinook menjadi bagian dari operasi gabungan untuk memperkuat kemampuan pemadaman udara, bukan menggantikan kemampuan nasional yang telah dikerahkan.
Menggunakan Bambi Bucket untuk Water Bombing
Dalam operasi pemadaman, CH-47 Chinook menggunakan bambi bucket, yakni kantong air yang digantung pada bagian bawah helikopter.
Perangkat tersebut memungkinkan helikopter mengambil air dari sumber air seperti sungai atau perairan yang memenuhi persyaratan, kemudian menjatuhkannya dari udara ke lokasi kebakaran.
Metode water bombing digunakan untuk membantu memadamkan titik api yang sulit dijangkau atau ditangani secara efektif oleh personel pemadam di darat.
Penggunaan helikopter berat seperti Chinook juga memungkinkan pengangkutan air dalam jumlah besar dalam satu kali penerbangan, meski efektivitas operasi tetap sangat bergantung pada lokasi sumber air, kondisi cuaca, jarak pandang, dan karakteristik titik kebakaran.
Misi Kemanusiaan Jepang di Indonesia
Pengerahan tiga CH-47 Chinook ke Indonesia merupakan bagian dari misi bantuan kemanusiaan Jepang dalam menghadapi bencana karhutla.
Kementerian Pertahanan RI menyatakan kerja sama tersebut dilaksanakan dalam kerangka DCA Indonesia–Jepang dan HADR.
Misi ini menunjukkan bahwa kerja sama pertahanan kedua negara tidak hanya mencakup aspek pertahanan dan peningkatan kapasitas, tetapi juga dapat digunakan untuk mendukung penanganan bencana dan perlindungan masyarakat.
Bagi Jepang, operasi tersebut juga menjadi salah satu bentuk dukungan internasional untuk membantu Indonesia menghadapi dampak kebakaran hutan dan lahan.
Sementara bagi Indonesia, kehadiran Chinook menambah kapasitas pemadaman udara pada saat karhutla membutuhkan pengerahan berbagai unsur secara simultan.
Operasi Akan Menyesuaikan Kondisi Lapangan
Dengan mulai beroperasinya CH-47 Chinook pada 16 September, penanganan karhutla di Kalimantan Barat memasuki fase baru.
Namun, operasi udara tetap tidak dapat dilakukan tanpa mempertimbangkan faktor keselamatan penerbangan.
Kabut asap, jarak pandang, cuaca, kondisi titik api, serta ketersediaan sumber air menjadi sejumlah faktor yang menentukan kapan dan di mana helikopter dapat diterbangkan.
Kementerian Pertahanan menegaskan bahwa dukungan Jepang diarahkan untuk memperkuat operasi nasional dalam menghadapi karhutla.
Tiga Chinook yang kini mulai menjalankan misi water bombing diharapkan dapat membantu menjangkau titik-titik kebakaran yang sulit ditangani melalui operasi darat.
Dari Pelabuhan Kijing, Mempawah, misi kemanusiaan Jepang tersebut kini bergerak ke fase operasional—menghadirkan kemampuan pemadaman udara dari salah satu helikopter angkut berat yang digunakan JGSDF untuk membantu Indonesia menghadapi karhutla.
URRANEWS.ONLINE
Indonesia | Kalimantan Barat | Nasional | Lingkungan | Pertahanan
Editor: URRANEWS Newsroom
