Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengatakan peningkatan tersebut antara lain ditopang oleh derasnya aliran modal asing ke pasar keuangan domestik, terutama melalui instrumen portofolio seperti Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
detikfinance
Kenaikan sekitar US$700 juta ini menjadi perhatian karena terjadi ketika pasar keuangan global masih menghadapi ketidakpastian dan tekanan terhadap mata uang negara-negara emerging market.
SBN dan SRBI Jadi Magnet Dana Asing
Menurut Destry, salah satu faktor yang membuat investor asing kembali masuk ke pasar Indonesia adalah terjadinya repricing atau penyesuaian harga dan tingkat imbal hasil instrumen keuangan domestik.
Penyesuaian tersebut terjadi pada SBN maupun SRBI sehingga tingkat imbal hasil yang ditawarkan menjadi lebih menarik bagi investor global.
“Repricing” tersebut kemudian mendorong masuknya dana asing dalam jumlah besar ke dua instrumen tersebut.
Secara year to date (ytd), Destry menyebut akumulasi aliran dana asing ke SBN dan SRBI telah mencapai sekitar US$10 miliar hingga US$11 miliar.
detikfinance
Fenomena tersebut menjadi salah satu faktor yang memperkuat posisi eksternal Indonesia.
BI Turunkan Biaya Hedging untuk Tarik Investor Asing
Bank Indonesia juga menggunakan strategi lain untuk meningkatkan daya tarik pasar keuangan Indonesia.
Salah satunya melalui pengurangan biaya lindung nilai atau hedging cost bagi investor asing.
Strategi tersebut memungkinkan investor melakukan konversi valuta asing ke Rupiah dengan biaya lindung nilai yang lebih rendah.
Menurut Destry, langkah tersebut dilakukan tanpa harus mengubah BI-Rate.
“Jadi kita memberikan hedging cost,” ujar Destry dalam acara Sarasehan 100 Ekonom di Jakarta, Kamis (3/9/2026).
detikfinance
Kebijakan itu menjadi bagian dari upaya BI untuk menarik modal asing sekaligus menjaga stabilitas pasar keuangan dan nilai tukar Rupiah.
Cadangan Devisa Bukan Sekadar Angka
Bagi sebuah negara, cadangan devisa bukan hanya angka dalam laporan Bank Sentral.
Cadangan devisa berfungsi sebagai salah satu bantalan ketahanan eksternal ketika terjadi tekanan terhadap perekonomian maupun pasar valuta asing.
Bank Indonesia sebelumnya mencatat cadangan devisa pada akhir Juli 2026 sebesar US$145,3 miliar. Posisi tersebut setara dengan pembiayaan sekitar 5,5 bulan impor, atau sekitar 5,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Angka itu berada jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.
Bank Indonesia
Dengan demikian, kenaikan ke sekitar US$146 miliar pada akhir Agustus memperkuat ruang bagi Indonesia dalam menghadapi gejolak eksternal.
Rupiah Mendapat Bantalan
Masuknya dana asing ke instrumen domestik juga berkaitan dengan stabilitas nilai tukar.
Ketika investor asing membawa dolar dan menukarkannya ke Rupiah untuk membeli instrumen keuangan domestik, permintaan terhadap Rupiah dapat meningkat.
BI sendiri terus menggunakan berbagai instrumen untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
Dalam tinjauan kebijakan moneternya, BI menyebut aliran investasi portofolio asing pada kuartal III 2026 hingga 14 Agustus telah mencatat net inflow US$1,8 miliar, yang antara lain ditopang penerbitan global bond pemerintah serta aliran dana ke SBN dan SRBI.
Bank Indonesia
BI juga mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75 persen dalam RDG 18–19 Agustus 2026.
Bank Indonesia
Tantangan Berikutnya: Jangan Hanya Berhenti di Portofolio
Meski masuknya dana asing menjadi sinyal positif, BI tetap menghadapi tantangan agar modal asing tidak hanya masuk ke instrumen finansial.
Destry menjelaskan bahwa secara umum investasi asing biasanya masuk terlebih dahulu melalui portofolio. Ketika investor semakin yakin terhadap prospek perekonomian suatu negara, modal tersebut berpotensi berlanjut ke sektor riil.
Artinya, pekerjaan rumah berikutnya adalah bagaimana menjaga kepercayaan investor agar aliran dana tersebut dapat berkembang menjadi investasi jangka panjang, termasuk ke sektor produktif.
Di sisi lain, BI juga terus mendorong transaksi menggunakan mata uang lokal atau Local Currency Transaction (LCT), terutama dalam hubungan ekonomi Indonesia dengan negara mitra seperti China dan Jepang.
detikfinance
Ekonomi Indonesia Masih Punya Bantalan
Kenaikan cadangan devisa menjadi sekitar US$146 miliar menunjukkan bahwa sektor eksternal Indonesia masih memiliki bantalan yang relatif kuat.
Namun, cadangan devisa yang tinggi tidak berarti Indonesia sepenuhnya kebal terhadap tekanan global.
Pergerakan dolar AS, arus modal global, harga komoditas, kondisi geopolitik, hingga kebutuhan valuta asing domestik tetap menjadi faktor yang harus diperhatikan.
Karena itu, kemampuan Indonesia mempertahankan arus modal masuk sekaligus memperkuat investasi sektor riil akan menjadi salah satu kunci menjaga stabilitas ekonomi dalam beberapa bulan ke depan.
Bagi pasar, pesan dari kenaikan cadangan devisa ini cukup jelas: investor asing kembali melihat instrumen keuangan Indonesia sebagai salah satu tujuan investasi yang menarik. Tantangannya sekarang adalah bagaimana mempertahankan kepercayaan tersebut agar tidak bersifat sementara.
