Kepastian tersebut diperoleh setelah Basarnas melakukan pengecekan ulang terhadap lokasi yang disebut dalam video. Tim SAR tidak menemukan kapal maupun objek yang memiliki ciri-ciri sesuai dengan KM Arupadatu 1.
Kapal cepat tersebut sebelumnya dilaporkan hilang kontak di perairan Selat Sunda saat membawa rombongan jurnalis yang melakukan perjalanan menuju kawasan Gunung Anak Krakatau.
Lokasi Video Dicek Menggunakan RIB dan Drone
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Basarnas Banten Al Amrad mengatakan lokasi yang ditunjukkan dalam video telah menjadi bagian dari area yang dipantau tim SAR.
Berdasarkan koordinat yang diperoleh dari video, titik tersebut berada sekitar empat kilometer di antara Pulau Rakata dan Pulau Sertung, dengan posisi lebih dekat ke Pulau Sertung.
Tim kemudian kembali melakukan pemeriksaan menggunakan Rigid Inflatable Boat (RIB) serta drone.
Namun, hasil pengecekan tidak menemukan objek yang sesuai dengan kapal yang dicari.
“Lokasi dalam video tersebut sebelumnya telah dipantau tim SAR, termasuk saat pencarian menggunakan RIB 02 Lampung dan RIB 02 Banten,” kata Al Amrad dalam keterangan yang dikutip dari Metro TV.
Pemeriksaan ulang dilakukan untuk memastikan informasi yang beredar di media sosial tidak menimbulkan kesimpulan keliru di tengah proses pencarian.
Tidak Ditemukan Ciri Kapal Arupadatu 1
Basarnas memastikan tidak menemukan speedboat dengan karakteristik yang sesuai dengan KM Arupadatu 1 di lokasi tersebut.
Sebelumnya, beredar video yang dikaitkan dengan keberadaan kapal yang hilang. Informasi tersebut kemudian menjadi perhatian karena berpotensi memberikan petunjuk baru bagi tim pencarian.
Namun, setelah dilakukan verifikasi lapangan, tidak ditemukan objek yang dapat dikaitkan dengan KM Arupadatu 1.
Basarnas juga terus melakukan verifikasi terhadap setiap informasi yang masuk, termasuk laporan masyarakat maupun temuan visual yang beredar di media sosial.
Langkah tersebut dilakukan agar seluruh sumber informasi dapat diperiksa secara langsung sebelum dijadikan dasar untuk mengubah sektor pencarian.
Delapan Orang Masih Belum Ditemukan
KM Arupadatu 1 dilaporkan hilang kontak setelah berangkat dari Dermaga Pegedongan, Carita, Kabupaten Pandeglang, pada Senin, 7 September 2026 sekitar pukul 14.00 WIB.
Kapal tersebut membawa delapan orang.
Lima di antaranya merupakan jurnalis, yakni M. Bagus Khoirunnas dari ANTARA, Ari Basuki dari Merdeka, Yudhistiro Pranoto dari iNews, Firman Daus dari Anadolu, serta Donal Husni yang merupakan jurnalis lepas.
Tiga orang lainnya adalah Warta selaku nakhoda, Surakman sebagai anak buah kapal (ABK), dan Heriyanto sebagai pemandu.
Mereka melakukan perjalanan menuju kawasan Gunung Anak Krakatau untuk menjalankan tugas peliputan.
Sejak kapal kehilangan kontak, Basarnas bersama berbagai unsur SAR melakukan pencarian melalui jalur laut, udara, maupun penyisiran wilayah pesisir.
Area Pencarian Terus Diperluas
Dalam perkembangannya, operasi pencarian tidak hanya difokuskan di sekitar Gunung Anak Krakatau.
Basarnas memperluas wilayah pencarian berdasarkan berbagai pertimbangan, termasuk posisi terakhir kapal, arah angin, arus laut, kondisi gelombang serta informasi yang diterima dari lapangan.
Pada hari ke-10 operasi, area pencarian bahkan diperluas hingga mencapai sekitar 8.509 nautical mile persegi dan dibagi ke dalam 10 sektor utama.
Tim juga menyisir wilayah pesisir dan berkoordinasi dengan nelayan serta kapal-kapal yang berada di sekitar perairan Selat Sunda.
Namun, hingga akhir operasi tidak ditemukan objek yang dapat memastikan keberadaan KM Arupadatu 1 maupun delapan orang yang berada di dalamnya.
Operasi SAR Resmi Dihentikan
Setelah berlangsung selama 10 hari, operasi pencarian dan pertolongan terhadap rombongan jurnalis dan kru KM Arupadatu 1 akhirnya dihentikan pada Kamis, 17 September 2026.
Penghentian operasi diumumkan Gubernur Banten Andra Soni dalam konferensi pers di Posko Utama SAR Gabungan, Dermaga Marina Carita, Kabupaten Pandeglang.
Keputusan tersebut diambil setelah operasi gabungan dinilai tidak lagi efektif untuk dilanjutkan dengan pola pencarian yang sama.
Meski operasi resmi dihentikan, informasi baru yang valid masih dapat menjadi dasar untuk melakukan pencarian kembali.
Pemerintah daerah dan Basarnas tetap membuka kemungkinan tindak lanjut apabila terdapat petunjuk baru mengenai keberadaan kapal maupun para penumpangnya.
Basarnas Verifikasi Setiap Informasi
Sebelum operasi dihentikan, Basarnas telah melakukan sejumlah verifikasi terhadap berbagai objek yang dilaporkan masyarakat.
Salah satunya adalah temuan terpal hijau berukuran sekitar 10 x 10 meter yang sempat menjadi perhatian dalam pencarian.
Setelah dilakukan pemeriksaan berdasarkan spesifikasi KM Arupadatu 1, Basarnas memastikan terpal tersebut bukan bagian dari perlengkapan kapal yang hilang.
Hal serupa dilakukan terhadap video yang beredar di media sosial.
Tim SAR tidak langsung menjadikan video tersebut sebagai titik temuan, tetapi terlebih dahulu mencocokkan koordinat dan melakukan pemeriksaan lapangan menggunakan RIB dan drone.
Hasilnya, tidak ditemukan kapal dengan karakteristik KM Arupadatu 1.
Informasi Viral Harus Diverifikasi
Kasus ini kembali menunjukkan pentingnya verifikasi informasi dalam situasi operasi pencarian dan pertolongan.
Informasi mengenai objek yang diduga berkaitan dengan kapal hilang dapat membantu tim SAR apabila akurat. Namun, informasi yang tidak terverifikasi juga berpotensi mengalihkan sumber daya dan perhatian tim dari sektor pencarian yang telah ditentukan.
Karena itu, setiap informasi mengenai keberadaan KM Arupadatu 1 perlu disampaikan kepada Basarnas, kepolisian, atau instansi terkait agar dapat diverifikasi melalui prosedur operasi SAR.
Hingga operasi resmi dihentikan, keberadaan delapan orang yang berada di dalam KM Arupadatu 1 belum diketahui.
Video yang sempat viral dan disebut menunjukkan lokasi kapal juga telah dipastikan bukan rekaman terkini keberadaan Arupadatu 1.
URRANEWS.ONLINE akan terus mengikuti setiap informasi resmi terkait KM Arupadatu 1 dan delapan orang yang masih belum diketahui keberadaannya.
URRANEWS.ONLINE
Banten | Nasional | SAR | Peristiwa
Editor: URRANEWS Newsroom
