Peluang tersebut semakin terbuka setelah Singapura mulai menghadapi keterbatasan lahan dan energi untuk pengembangan pusat data baru. Kondisi ini membuat Batam dinilai memiliki posisi strategis sebagai alternatif pengembangan infrastruktur digital di kawasan.
Berdasarkan data yang dikutip dalam laporan Batamnews, saat ini terdapat sekitar 182 data center di Indonesia. Jakarta masih menjadi wilayah dengan jumlah terbanyak, yakni sekitar 94 unit, sementara Batam telah memiliki sekitar 16 data center.
Batam bahkan disebut berpotensi menarik investasi data center dengan nilai mencapai US$15–20 miliar, dengan target kapasitas nasional sekitar 1,3 gigawatt (GW).
Singapura Mulai Terbatas, Batam Menjadi Alternatif
Pertumbuhan industri AI membutuhkan infrastruktur komputasi yang sangat besar. Selain membutuhkan pusat data dengan kapasitas tinggi, fasilitas tersebut juga membutuhkan pasokan listrik dan sistem pendinginan yang stabil.
Di sisi lain, Singapura sebagai salah satu pusat data terbesar di Asia mulai menghadapi keterbatasan lahan dan kebutuhan energi. Kondisi tersebut membuka peluang bagi kawasan sekitarnya, termasuk Batam.
Letak Batam yang berdekatan dengan Singapura menjadi salah satu keunggulan strategis. Infrastruktur dan konektivitas yang terus dikembangkan juga menjadi faktor pendukung bagi masuknya investasi pusat data.
Ratusan Juta Pengguna Internet Jadi Pasar Pendukung
Indonesia juga memiliki pasar digital yang sangat besar. Jumlah pengguna internet yang mencapai lebih dari 200 juta orang menjadi salah satu faktor yang membuat kebutuhan terhadap infrastruktur digital terus meningkat.
Selain itu, kebijakan mengenai pemrosesan dan penyimpanan data domestik turut mendorong kebutuhan pembangunan pusat data di dalam negeri.
Pertumbuhan penggunaan AI juga membuat kebutuhan komputasi meningkat secara signifikan. Infrastruktur yang sebelumnya digunakan untuk layanan cloud computing kini berkembang menuju kebutuhan komputasi AI dengan penggunaan akselerator berkapasitas tinggi.
Raksasa Teknologi Mulai Masuk
Sejumlah perusahaan teknologi global juga telah menyatakan komitmen investasi infrastruktur digital di Indonesia.
Microsoft disebut telah mengumumkan investasi sekitar US$1,7 miliar untuk pengembangan infrastruktur cloud dan AI di Indonesia.
Sementara itu, Amazon Web Services (AWS) disebut memiliki komitmen investasi sekitar US$5 miliar.
Di Batam, Firmus juga disebut tengah mengembangkan kampus data center dengan target mencapai sekitar 170.000 akselerator AI.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa persaingan untuk membangun infrastruktur AI di Indonesia mulai memasuki tahap yang lebih serius.
Kapasitas Data Center Diprediksi Terus Melonjak
Proyeksi yang dikutip dalam laporan tersebut menunjukkan kapasitas data center nasional berpotensi melampaui 2.000 MW pada 2030.
Permintaan terhadap kapasitas pusat data juga diperkirakan tumbuh sekitar 16,8 persen per tahun.
Pemerintah Indonesia sendiri menargetkan investasi data center berbasis AI dengan nilai sekitar Rp360 triliun masuk ke Indonesia.
Jika terealisasi, investasi tersebut berpotensi memberikan dampak besar terhadap ekonomi digital, kebutuhan tenaga kerja, pembangunan infrastruktur, serta ekosistem teknologi nasional.
Tantangan Batam: Listrik, Air dan Infrastruktur
Besarnya peluang investasi data center juga membawa tantangan bagi Batam.
Pusat data membutuhkan pasokan listrik dalam jumlah besar dan harus tersedia secara stabil selama 24 jam. Selain itu, fasilitas pusat data membutuhkan sistem pendinginan yang membutuhkan sumber daya air dan infrastruktur pendukung.
Karena itu, pertumbuhan data center harus diikuti dengan kesiapan infrastruktur dasar, termasuk listrik, air baku, jaringan telekomunikasi, jalan, serta tata ruang.
Pengembangan data center juga perlu memperhatikan dampak terhadap kebutuhan energi dan sumber daya daerah agar pertumbuhan ekonomi digital tidak menimbulkan tekanan terhadap pelayanan dasar masyarakat.
Batam di Persimpangan Ekonomi Digital
Masuknya investasi data center dalam skala besar menempatkan Batam pada posisi penting dalam peta ekonomi digital kawasan.
Batam tidak lagi hanya dipandang sebagai kawasan industri dan perdagangan yang berdekatan dengan Singapura. Kota ini berpeluang berkembang menjadi salah satu simpul infrastruktur digital dan AI di Asia Tenggara.
Namun, peluang tersebut harus diikuti dengan perencanaan jangka panjang dan pengawasan yang kuat.
Jika infrastruktur energi, air, konektivitas, sumber daya manusia, dan kepastian investasi mampu disiapkan secara berkelanjutan, Batam berpotensi mengambil sebagian besar peluang yang muncul dari keterbatasan pembangunan data center di Singapura.
Batam kini bukan hanya menjadi pintu masuk investasi industri, tetapi berpeluang menjadi salah satu pusat infrastruktur yang menopang revolusi AI di kawasan Asia Tenggara.
