BMKG Ingatkan Potensi Megathrust Selat Sunda M8,9, Jakarta Bisa Terdampak Tsunami
BREAKING Redaksi Tiga Media Apresiasi Bareskrim dan Polda Kepri dalam Kasus Blackout Batam, Desak Evaluasi Sistem Kelistrikan
Nasional · 13 Sep 2026 10:41

BMKG Ingatkan Potensi Megathrust Selat Sunda M8,9, Jakarta Bisa Terdampak Tsunami

Oleh Administrator · 11 views · 3 menit baca

BMKG Ingatkan Potensi Megathrust Selat Sunda M8,9, Jakarta Bisa Terdampak Tsunami
JAKARTA, URRANEWS — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kembali mengingatkan masyarakat mengenai potensi gempa bumi besar dari zona megathrust Selat Sunda. Dalam skenario maksimum yang menjadi bahan kajian mitigasi, gempa di kawasan tersebut dapat mencapai magnitudo 8,9 dan berpotensi memicu tsunami.
Informasi tersebut kembali menjadi perhatian setelah dibahas dalam pemberitaan Metro TV pada Sabtu (12/9/2026). Dalam skenario yang dikutip, dampak gempa tidak hanya berpotensi dirasakan di sekitar sumber gempa, tetapi juga dapat menjalar hingga wilayah Jakarta. 
Namun, informasi mengenai magnitudo 8,9 tersebut bukan berarti BMKG memprediksi gempa dengan kekuatan tersebut akan terjadi dalam waktu dekat.
Angka 8,9 merupakan gambaran potensi maksimum dalam skenario gempa megathrust Selat Sunda yang digunakan untuk kepentingan mitigasi dan kesiapsiagaan bencana.
Tsunami Berpotensi Mencapai Jakarta
Salah satu risiko yang menjadi perhatian adalah kemungkinan tsunami apabila gempa besar tersebut menyebabkan perubahan dasar laut.
Berdasarkan kajian yang dikutip dalam pemberitaan tersebut, gelombang tsunami dari kawasan Selat Sunda diperkirakan membutuhkan waktu sekitar 2,5 jam untuk mencapai pesisir utara Jakarta. Ketinggian gelombang di pesisir Jakarta diperkirakan sekitar 0,5 meter dalam skenario yang dibahas. 
Sementara itu, wilayah pesisir Banten dan Jawa Barat yang lebih dekat dengan sumber ancaman berpotensi mengalami gelombang lebih tinggi, dengan estimasi dapat melebihi 1,5 meter dalam skenario tersebut. 
Pemodelan mengenai tsunami Selat Sunda hingga Jakarta bukan hal baru. Kajian BMKG sebelumnya juga menunjukkan tsunami akibat skenario gempa besar di Selat Sunda dapat mencapai kawasan Jakarta. Dalam salah satu pemodelan, ketinggian sekitar 0,5 meter diproyeksikan di kawasan Kapuk Muara–Kamal Muara dan sekitar 0,6 meter di Ancol–Tanjung Priok. 
Risiko Tidak Hanya Tsunami
Selain tsunami, guncangan gempa menjadi risiko utama yang perlu diperhitungkan.
BMKG sebelumnya menyebut skenario gempa megathrust besar dapat menyebabkan guncangan dengan intensitas sekitar 6–7 MMI di Jakarta. Kondisi tersebut berpotensi memberikan dampak terhadap bangunan, infrastruktur, serta kawasan permukiman yang memiliki tingkat kerentanan berbeda-beda. 
Jakarta juga memiliki kawasan dengan karakteristik tanah lunak, khususnya menuju wilayah utara. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam mitigasi risiko gempa.
Karena itu, kesiapan bangunan, jalur evakuasi, sistem peringatan dini, serta pemahaman masyarakat mengenai tindakan ketika gempa terjadi menjadi bagian penting dari upaya pengurangan risiko.
Bukan Prediksi Gempa Akan Terjadi Sekarang
Munculnya kembali informasi mengenai megathrust Selat Sunda di media sosial berpotensi menimbulkan salah persepsi.
Tidak ada dasar untuk menyimpulkan bahwa gempa M8,9 akan terjadi pada tanggal tertentu berdasarkan informasi tersebut.
BMKG menggunakan skenario potensi gempa besar untuk meningkatkan kesiapsiagaan. Waktu terjadinya gempa megathrust tidak dapat dipastikan secara akurat.
Karena itu, masyarakat tidak perlu panik hanya karena mengetahui adanya potensi tersebut. Yang perlu dilakukan adalah memahami risiko dan menyiapkan langkah mitigasi.
BMKG juga telah menekankan pentingnya kesiapsiagaan masyarakat di wilayah rawan gempa dan tsunami. Dalam kegiatan mitigasi di Pandeglang, misalnya, BMKG mendorong penguatan edukasi, sistem peringatan dini, peta bahaya, rambu evakuasi, serta rencana kontingensi masyarakat. 
Masyarakat Diminta Tidak Menunggu Informasi Viral
Bagi masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir, informasi resmi dari BMKG dan pemerintah daerah harus menjadi rujukan utama ketika terjadi gempa atau peringatan tsunami.
Informasi dari media sosial sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai peringatan dini resmi, terutama apabila mencantumkan tanggal atau waktu tertentu tanpa sumber resmi.
Potensi megathrust adalah risiko yang perlu dipersiapkan, bukan kepastian bahwa gempa besar akan terjadi dalam waktu tertentu.
Dengan memahami perbedaan antara potensi, skenario pemodelan, dan peringatan dini, masyarakat dapat tetap waspada tanpa terjebak kepanikan.