BATAM, URRANEWS.ONLINE — Badan Pengusahaan (BP) Batam memastikan peningkatan pelayanan air bersih dilakukan secara bertahap di 18 wilayah yang masuk kategori stress area. Langkah ini dilakukan untuk menjaga pasokan air bagi masyarakat di tengah pertumbuhan penduduk, permukiman, dan aktivitas investasi di Batam.
Kepala BP Batam Amsakar Achmad mengatakan peningkatan pelayanan air bersih menjadi salah satu komitmen pemerintahannya. Sejumlah wilayah di Kecamatan Batu Ampar, Bengkong, dan Lubuk Baja disebut mulai merasakan perbaikan layanan.
“Janji kita adalah untuk meningkatkan pelayanan air bersih dan kita lakukan ini secara bertahap,” kata Amsakar di Batam, Kamis (8/10/2026).
Menurut dia, sebagian pelayanan di tiga kecamatan tersebut sudah berjalan dan warga mulai merasakan ketersediaan air.
18 Wilayah Masuk Kategori Stress Area
BP Batam telah memetakan wilayah yang mengalami tekanan pelayanan air bersih atau stress area.
Wilayah tersebut meliputi Tanjung Sengkuang, Batu Merah, Tanjung Uma, Tiban Lama, Puri Gracia, Bengkong, Bengkong Permai, Batu Ampar, Nagoya, kawasan main line Sukajadi-Bengkong, Muka Kuning, serta Kavling Sambau di Nongsa.
Perbaikan masih berlangsung di sejumlah lokasi. Salah satunya Sei Lekop yang saat ini masih dalam proses pengerjaan.
Kapasitas IPA Dam Sei Ladi Ditambah
Salah satu pekerjaan yang telah diselesaikan BP Batam adalah peningkatan kapasitas Instalasi Pengolahan Air (IPA) di Dam Sei Ladi.
Kapasitas pengolahan air di lokasi tersebut meningkat dari 2 liter per detik menjadi 5 liter per detik.
BP Batam juga telah menyelesaikan pekerjaan pipanisasi di kawasan Tanjung Sengkuang pada September 2026 sesuai target.
Amsakar menyebut pekerjaan tersebut sebagai salah satu quick win untuk menangani persoalan stress area.
Jaringan Pipa Berusia 25-55 Tahun
Selain meningkatkan kapasitas pengolahan, BP Batam melakukan revitalisasi jaringan perpipaan.
Amsakar mencontohkan penanganan kebocoran pipa di Muka Kuning yang diikuti dengan penyiapan jalur alternatif menggunakan pipa dengan ukuran berbeda agar masa pemanfaatannya dapat lebih panjang.
Menurut Amsakar, jaringan perpipaan di Batam sebagian telah berusia antara 25 hingga 55 tahun.
Karena itu, BP Batam membutuhkan data yang kuat untuk menentukan kondisi jaringan dan prioritas revitalisasi.
“Terus terang kami di Batam bekerja secara parsial, saat ada problem baru kami kerjakan. Saya ingin ada solusi jangka panjang yang kita ambil, setidaknya ada roadmap,” ujar Amsakar.
Ia mengatakan tidak seluruh jaringan perpipaan yang ada saat ini dapat dideteksi kondisinya sehingga pemetaan menjadi bagian penting dalam perencanaan revitalisasi.
Air Baku Jadi Tantangan Jangka Panjang
Persoalan pelayanan air bersih juga berkaitan dengan ketersediaan air baku.
Amsakar mengatakan kebutuhan air akan terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk, pembangunan permukiman, dan aktivitas investasi di Batam.
Di sisi lain, ketersediaan air baku masih sangat bergantung pada kondisi cuaca dan curah hujan karena waduk menjadi salah satu sumber penampungan air baku.
“Ketersediaan air baku juga masih sangat bergantung pada cuaca dan curah hujan karena menggunakan waduk sebagai penampung air,” katanya.
BP Batam Siapkan Sumber Air dari Luar Batam
Untuk menghadapi kebutuhan jangka panjang, BP Batam menyiapkan beberapa opsi.
Di antaranya mencari sumber air baku dari luar Batam, termasuk dari Lingga dan Bintan, membangun waduk baru di Batam, serta mengembangkan sistem pemantauan pelayanan secara real time.
Sistem tersebut diharapkan dapat membantu mendeteksi gangguan pelayanan sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat.
Penanganan 18 stress area menjadi bagian dari strategi jangka pendek BP Batam. Sementara itu, penyediaan sumber air baku, pembangunan waduk, dan revitalisasi jaringan perpipaan disiapkan sebagai solusi jangka panjang untuk menjaga keberlanjutan pelayanan air bersih di Batam.
