Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengatakan posisi ekonomi Indonesia tidak buruk jika dibandingkan dengan negara lain. Menurutnya, perbedaan karakteristik dan tingkat kompleksitas ekonomi membuat perbandingan pertumbuhan antarnegara tidak dapat dilakukan hanya berdasarkan angka pertumbuhan.
“Dari sisi pertumbuhan ekonomi kita mungkin kalah sama Vietnam. Tapi karakter kita beda dengan Vietnam, kompleksitas juga masih beda,” ujar Destry dalam acara Sarasehan 100 Ekonom di Jakarta, Kamis (3/9/2026).
Pertumbuhan Ekonomi Capai 5,45 Persen
Berdasarkan data yang disampaikan dalam forum tersebut, ekonomi Indonesia pada semester I 2026 tumbuh 5,45 persen.
Angka tersebut menunjukkan perekonomian nasional masih mampu mempertahankan pertumbuhan di tengah berbagai tantangan ekonomi global.
Destry menilai salah satu keunggulan Indonesia berada pada kondisi inflasi yang relatif terkendali.
Menurut dia, Vietnam memang mencatat pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, tetapi pada saat yang sama menghadapi tekanan inflasi yang lebih besar.
“Dari sisi inflasi kita juga manageable. Vietnam boleh ekonomi tinggi, tapi inflasi dia di atas 4,5 persen, 5 persen seperti itu,” jelasnya.
Bagi BI, kombinasi antara pertumbuhan dan stabilitas harga menjadi bagian penting dalam menilai kesehatan perekonomian.
Inflasi Jadi Salah Satu Kekuatan Indonesia
Pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak selalu berarti kondisi ekonomi suatu negara lebih baik apabila dibarengi tekanan inflasi yang besar.
Karena itu, BI melihat stabilitas harga sebagai salah satu fondasi yang harus dipertahankan.
Indonesia dinilai masih mempunyai ruang untuk menjaga pertumbuhan sembari mempertahankan inflasi dalam kondisi yang terkendali.
Kondisi tersebut menjadi penting karena tekanan harga dapat memengaruhi daya beli masyarakat dan pada akhirnya berdampak terhadap konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi salah satu motor utama perekonomian nasional.
Defisit Fiskal dan Rasio Utang Dinilai Masih Terkendali
Selain inflasi, Destry juga menyoroti kondisi fiskal Indonesia.
Menurutnya, pemerintah masih menjalankan kebijakan defisit fiskal secara prudent.
Defisit fiskal Indonesia pada 2025 disebut berada di sekitar 2,8 persen, sementara untuk 2026 diperkirakan sekitar 2,85 persen.
Destry juga menilai rasio utang Indonesia masih berada pada level yang relatif dapat dikelola.
Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat fundamental ekonomi Indonesia dinilai tetap memiliki bantalan ketika menghadapi ketidakpastian ekonomi global.
Pertumbuhan Belum Mencapai Potensi Optimal
Meski memberikan penilaian positif terhadap kondisi fundamental ekonomi, Destry tidak menutup mata terhadap tantangan yang masih dihadapi Indonesia.
Ia menilai pertumbuhan ekonomi nasional masih berada di bawah level optimal.
Artinya, Indonesia sebenarnya masih mempunyai kapasitas untuk tumbuh lebih tinggi apabila berbagai hambatan struktural dapat diselesaikan dan seluruh kekuatan ekonomi bergerak secara lebih terkoordinasi.
Peningkatan pertumbuhan tersebut membutuhkan kontribusi bukan hanya dari pemerintah dan Bank Indonesia, tetapi juga dunia usaha, ekonom serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Destry Dorong “Sinergi Merah Putih”
Dalam menghadapi persoalan ekonomi yang semakin kompleks, Destry menyerukan kerja bersama antarotoritas dan pelaku ekonomi.
Menurutnya, pemerintah, BI, pelaku usaha, ekonom dan pemangku kepentingan lainnya perlu memiliki tujuan yang sama dalam menentukan arah perekonomian nasional.
Ia menyebut kolaborasi tersebut sebagai “sinergi merah putih”.
“Jadi buat saya sinergi merah putih itu ada sesuatu yang harus kita lakukan ke depannya,” kata Destry.
Konsep tersebut menekankan pentingnya pembagian peran dan koordinasi sehingga kebijakan ekonomi tidak berjalan sendiri-sendiri.
Tantangan Indonesia Bukan Sekadar Mengejar Angka Pertumbuhan
Perbandingan Indonesia dengan Vietnam kembali menunjukkan bahwa mengejar angka pertumbuhan ekonomi bukan satu-satunya pekerjaan rumah pemerintah.
Indonesia harus menjaga keseimbangan antara pertumbuhan, inflasi, stabilitas fiskal, daya beli dan kesehatan sektor keuangan.
Dengan ekonomi yang tumbuh 5,45 persen pada semester pertama, tantangan berikutnya adalah meningkatkan kecepatan pertumbuhan tanpa mengorbankan stabilitas.
Di tengah ketidakpastian global, kemampuan menjaga keseimbangan tersebut akan menjadi salah satu penentu apakah ekonomi Indonesia mampu bergerak menuju pertumbuhan yang lebih tinggi.
Bagi masyarakat, pertumbuhan ekonomi pada akhirnya bukan sekadar angka statistik. Tantangan terbesarnya adalah memastikan pertumbuhan tersebut benar-benar terasa melalui peningkatan lapangan kerja, daya beli, investasi dan kesejahteraan.
