Gaya Hidup Mewah Mulai Ditinggalkan, Frugal Living Jadi Pilihan
BREAKING Redaksi Tiga Media Apresiasi Bareskrim dan Polda Kepri dalam Kasus Blackout Batam, Desak Evaluasi Sistem Kelistrikan
Lifestyle · 04 Oct 2026 09:36

Gaya Hidup Mewah Mulai Ditinggalkan, Frugal Living Jadi Pilihan di Tengah Tekanan Ekonomi

Oleh Administrator · 3 views · 5 menit baca

Gaya Hidup Mewah Mulai Ditinggalkan, Frugal Living Jadi Pilihan di Tengah Tekanan Ekonomi

URRANEWS.ONLINE — Gaya hidup masyarakat perlahan mengalami perubahan. Di tengah tekanan ekonomi global, meningkatnya biaya hidup, serta ketidakpastian masa depan, semakin banyak orang mulai memangkas pengeluaran dan menurunkan standar gaya hidup yang sebelumnya dianggap sebagai simbol keberhasilan.

Fenomena tersebut kerap disebut sebagai downsizing atau frugal living, yakni pola hidup yang lebih hemat dengan memprioritaskan kebutuhan, mengurangi konsumsi yang tidak diperlukan, serta lebih berhati-hati dalam mengelola keuangan.

Perubahan ini bukan semata-mata karena masyarakat tidak lagi mampu membeli barang atau menikmati layanan tertentu. Bagi sebagian orang, hidup lebih sederhana justru menjadi strategi untuk menjaga kesehatan finansial dan menghadapi ketidakpastian ekonomi.

Biaya Hidup Meningkat, Gaya Hidup Mulai Dikaji Ulang

Salah satu faktor utama yang mendorong perubahan tersebut adalah meningkatnya biaya hidup.

Kebutuhan pokok, energi, tempat tinggal, pendidikan, hingga berbagai kebutuhan rumah tangga mengalami tekanan harga. Kondisi tersebut dapat membuat daya beli masyarakat semakin terbatas.

Ketika pendapatan tidak mengalami peningkatan yang sebanding dengan kenaikan pengeluaran, masyarakat harus menentukan kembali prioritas keuangan.

Pengeluaran yang sebelumnya dianggap biasa, seperti makan di restoran mahal, membeli barang bermerek, mengganti kendaraan sebelum waktunya, hingga berbelanja berdasarkan tren, mulai dievaluasi.

Bagi sebagian keluarga, mengurangi pengeluaran nonprimer dianggap lebih rasional dibandingkan menghabiskan tabungan untuk mempertahankan gaya hidup.

Pendapatan Tidak Selalu Mengimbangi Pengeluaran

Perubahan pola konsumsi juga berkaitan dengan pertumbuhan pendapatan yang tidak selalu sejalan dengan kenaikan harga barang dan jasa.

Ketika biaya kebutuhan sehari-hari meningkat sementara pendapatan relatif stagnan, ruang keuangan rumah tangga semakin sempit.

Situasi tersebut mendorong masyarakat untuk lebih selektif dalam berbelanja.

Bukan lagi pertanyaan mengenai apakah seseorang mampu membeli sebuah barang, tetapi apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan dan memberikan manfaat yang sepadan dengan uang yang dikeluarkan.

Ketidakpastian Pekerjaan Membuat Masyarakat Lebih Berhati-hati

Faktor lain yang ikut memengaruhi adalah ketidakpastian lapangan kerja.

Perubahan kondisi ekonomi dan restrukturisasi perusahaan di berbagai sektor membuat sebagian masyarakat semakin berhati-hati dalam menggunakan pendapatan.

Dalam situasi seperti ini, memiliki uang tunai dan dana darurat dianggap lebih penting daripada mempertahankan gaya hidup konsumtif.

Masyarakat mulai mengantisipasi kemungkinan kehilangan pekerjaan, penurunan pendapatan, atau kebutuhan mendadak yang dapat muncul sewaktu-waktu.

Akibatnya, sebagian orang memilih mengurangi pengeluaran untuk gaya hidup dan mengalihkan uang tersebut menjadi tabungan atau dana darurat.

Dana Darurat Mulai Dianggap Lebih Penting

Pengalaman menghadapi pandemi dan berbagai ketidakpastian ekonomi sebelumnya juga mengubah cara sebagian masyarakat melihat keuangan pribadi.

Tabungan jangka panjang dan dana darurat tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang hanya perlu dimiliki kelompok berpenghasilan tinggi.

Sebaliknya, keduanya semakin dipandang sebagai perlindungan ketika kondisi ekonomi berubah.

Masyarakat yang sebelumnya lebih berorientasi pada konsumsi mulai mempertimbangkan konsekuensi jangka panjang sebelum mengeluarkan uang.

Prinsipnya sederhana: lebih baik memiliki cadangan keuangan daripada terlihat mampu tetapi tidak memiliki simpanan ketika menghadapi keadaan darurat.

Paylater dan Utang Konsumtif Mulai Dipertimbangkan

Perubahan pola hidup juga membuat sebagian masyarakat semakin berhati-hati terhadap utang konsumtif.

Kemudahan penggunaan kartu kredit maupun layanan buy now, pay later (paylater) memang memberikan akses cepat terhadap barang dan jasa. Namun, penggunaan untuk memenuhi gaya hidup dapat menimbulkan beban pembayaran pada masa mendatang.

Karena itu, sebagian masyarakat mulai membedakan antara utang yang digunakan untuk kebutuhan produktif dan utang yang hanya digunakan untuk mempertahankan gengsi.

Barang yang sebenarnya tidak diperlukan mulai dipertimbangkan kembali sebelum dibeli.

Frugal Living: Bukan Berarti Hidup Kekurangan

Istilah frugal living sering disalahartikan sebagai hidup serba kekurangan.

Padahal, konsep tersebut lebih menekankan pada penggunaan uang secara sadar dan sesuai prioritas.

Seseorang tetap dapat menikmati hidup, tetapi memilih untuk mengeluarkan uang hanya pada hal-hal yang dianggap memberikan manfaat nyata.

Misalnya, seseorang dapat memilih kendaraan yang lebih sederhana, memasak di rumah lebih sering, mengurangi pembelian pakaian, memilih barang berdasarkan fungsi, atau membatasi pembelian impulsif.

Dengan demikian, frugal living bukan sekadar menghemat uang, tetapi juga mengubah cara seseorang menentukan prioritas.

Gengsi Mulai Bergeser Menjadi Fungsi

Perubahan nilai hidup juga menjadi salah satu faktor.

Di tengah perkembangan gaya hidup minimalis, sebagian masyarakat mulai mempertanyakan anggapan bahwa kebahagiaan harus selalu dikaitkan dengan kepemilikan barang mahal.

Barang bermerek dan simbol status sosial tidak lagi menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan.

Sebagian orang justru mulai mengutamakan fungsi.

Ponsel tidak harus selalu model terbaru selama perangkat yang digunakan masih mampu memenuhi kebutuhan. Kendaraan tidak harus mewah selama aman dan mampu menunjang aktivitas. Rumah tidak harus berukuran besar selama nyaman dan sesuai kemampuan finansial.

Pola pikir tersebut membuat konsumsi menjadi lebih terukur.

Pengalaman dan Kesehatan Mulai Diprioritaskan

Pergeseran prioritas juga terlihat pada cara sebagian masyarakat menggunakan uang.

Alih-alih membeli barang mahal, sebagian orang lebih memilih mengalokasikan uang untuk kesehatan, kesehatan mental, pendidikan, perjalanan, pengalaman, atau waktu berkualitas bersama keluarga.

Artinya, konsumsi tidak sepenuhnya hilang. Yang berubah adalah jenis konsumsi yang dianggap memiliki nilai.

Pengalaman dan kualitas hidup mulai dipandang lebih penting dibandingkan sekadar memiliki barang sebagai simbol status.

Kesadaran Lingkungan Ikut Mendorong Perubahan

Faktor lingkungan juga tidak dapat diabaikan.

Konsumsi berlebihan menghasilkan lebih banyak limbah dan meningkatkan penggunaan sumber daya.

Karena itu, sebagian masyarakat mulai mengurangi pembelian pakaian baru, menggunakan barang lebih lama, mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, memilih produk yang lebih tahan lama, hingga menghindari pemborosan makanan.

Gaya hidup sederhana kemudian tidak hanya dipandang sebagai strategi keuangan, tetapi juga sebagai bagian dari kesadaran terhadap lingkungan.

Dari "Terlihat Kaya" Menjadi "Merasa Aman"

Perubahan tersebut menunjukkan adanya pergeseran orientasi.

Jika sebelumnya sebagian masyarakat mengejar gaya hidup untuk menunjukkan keberhasilan kepada lingkungan sekitar, kini sebagian lainnya mulai lebih mengutamakan rasa aman secara finansial.

Memiliki tabungan, tidak terbebani utang konsumtif, mempunyai dana darurat, serta mampu memenuhi kebutuhan dasar dinilai lebih penting daripada sekadar mempertahankan citra kemewahan.

Dalam kondisi ekonomi yang penuh ketidakpastian, hidup sederhana dapat menjadi bentuk pengendalian risiko.

Downsizing Bisa Menjadi Strategi, Bukan Kemunduran

Pada akhirnya, menurunkan standar gaya hidup tidak selalu berarti seseorang mengalami kemunduran ekonomi.

Dalam banyak kondisi, downsizing justru dapat menjadi keputusan strategis.

Mengurangi ukuran rumah, memilih kendaraan yang lebih ekonomis, mengurangi konsumsi barang bermerek, atau memangkas pengeluaran hiburan dapat memberikan ruang bagi seseorang untuk memperkuat kondisi keuangannya.

Ketika pengeluaran dapat ditekan sementara kebutuhan utama tetap terpenuhi, selisih pendapatan dapat dialihkan untuk tabungan, investasi, pendidikan, kesehatan, maupun dana darurat.

Fenomena frugal living dengan demikian mencerminkan perubahan cara masyarakat memandang uang dan keberhasilan.

Bukan lagi sekadar berapa banyak yang bisa dibeli, tetapi seberapa baik seseorang mengelola apa yang dimilikinya.

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, hidup lebih sederhana bagi sebagian masyarakat bukan berarti menyerah pada keadaan. Justru, hal tersebut dapat menjadi cara untuk mempertahankan kemandirian finansial dan mempersiapkan diri menghadapi masa depan.