TEHERAN — Konflik Amerika Serikat dan Iran yang berlangsung berbulan-bulan mulai memberikan tekanan semakin besar terhadap perekonomian kedua negara. Di Iran, pemerintah mengambil sejumlah langkah darurat untuk menghadapi tekanan ekonomi, sementara Amerika Serikat harus berhadapan dengan kenaikan harga energi dan risiko inflasi.
Salah satu langkah terbaru Teheran adalah menaikkan harga bensin untuk konsumsi di atas kuota tertentu. Mulai 8 September 2026, harga bensin untuk penggunaan lebih dari 110 liter per bulan dinaikkan dari 5.000 menjadi 10.000 toman per liter. Kuota bersubsidi untuk konsumsi hingga 110 liter tetap dipertahankan.
Kebijakan tersebut dilakukan ketika Iran menghadapi tekanan pada pasokan bahan bakar, akses valuta asing, perdagangan serta pendapatan dari sektor minyak. Padahal, Iran merupakan salah satu negara dengan cadangan minyak dan gas terbesar di dunia. Keterbatasan kapasitas pengolahan, tingginya konsumsi dan gangguan perdagangan membuat persoalan pasokan bahan bakar semakin kompleks.
Teheran Bentuk “Markas Perang Ekonomi”
Tekanan tersebut membuat pemerintah Iran memperkuat koordinasi kebijakan ekonomi. Otoritas Iran membentuk apa yang disebut “Markas Perang Ekonomi”, yang bertugas menangani berbagai gangguan ekonomi akibat konflik dan tekanan eksternal.
Ruang lingkupnya mencakup persoalan dunia usaha, perdagangan, pembiayaan, perpajakan, kepabeanan, perbankan hingga instrumen keuangan.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf juga memperingatkan bahwa pemerintah harus bergerak cepat menghadapi persoalan nilai tukar, inflasi, pengangguran dan pengelolaan pasar.
Tekanan terhadap masyarakat Iran juga semakin terlihat di lapangan. Sebelumnya, antrean panjang kendaraan di sejumlah SPBU dilaporkan terjadi ketika pasokan bahan bakar terganggu akibat kerusakan, sulitnya impor dan sanksi baru Amerika Serikat.
Ekonomi Iran Tertekan, tetapi Teheran Belum Menyerah
Tekanan ekonomi terhadap Iran semakin berat karena Amerika Serikat memperketat tekanan terhadap ekspor minyak, akses valuta asing dan jaringan perdagangan.
Reuters melaporkan bahwa tekanan tersebut telah mengurangi kemampuan Teheran memperoleh devisa dan mengimpor sejumlah kebutuhan. Persoalan itu muncul bersamaan dengan kenaikan harga dan tekanan terhadap pendapatan rumah tangga.
Namun, tekanan ekonomi belum otomatis membuat Iran bersedia memenuhi tuntutan Washington. Pemerintah Iran justru menyatakan akan merespons tekanan tersebut melalui reformasi ekonomi dan memperkuat kemampuan domestik.
Situasi ini membuat konflik tidak hanya berlangsung di medan militer. Pertarungan juga berkembang menjadi perang ekonomi yang melibatkan minyak, perdagangan, mata uang, bahan bakar dan akses terhadap sistem keuangan internasional.
AS Juga Mulai Membayar Harga Ekonomi
Di sisi lain, Amerika Serikat tidak sepenuhnya terbebas dari dampak konflik.
Ketegangan di kawasan Timur Tengah dan risiko gangguan pengiriman melalui Selat Hormuz telah mendorong harga energi global lebih tinggi. Pada awal September, harga minyak Brent sempat mendekati US$100 per barel.
Kenaikan tersebut berpotensi merambat ke berbagai sektor ekonomi Amerika Serikat, mulai dari transportasi dan pertanian hingga manufaktur dan logistik.
Harga diesel di Amerika Serikat juga mengalami tekanan besar. Reuters melaporkan harga diesel AS telah mencapai rekor, meningkatkan risiko kenaikan biaya operasional berbagai sektor yang bergantung pada bahan bakar.
Selat Hormuz Jadi Titik Kritis
Salah satu faktor paling menentukan dalam konflik ini adalah Selat Hormuz. Jalur pelayaran tersebut merupakan salah satu rute energi paling strategis di dunia dan menjadi jalur penting bagi perdagangan minyak serta LNG.
Setiap gangguan berkepanjangan di kawasan tersebut dapat memengaruhi harga energi global. Namun, sejauh ini pasar juga melakukan penyesuaian melalui peningkatan produksi negara lain dan penggunaan jalur ekspor alternatif.
Karena itu, dampak perang terhadap ekonomi global tidak hanya ditentukan oleh jumlah pasokan minyak yang hilang, tetapi juga seberapa lama gangguan berlangsung dan bagaimana negara-negara produsen serta konsumen meresponsnya.
Perang Ekonomi Bisa Menjadi Lebih Panjang
Bagi Iran, persoalan terbesar adalah menjaga ekonomi tetap berjalan ketika akses terhadap devisa dan perdagangan semakin terbatas. Bagi Amerika Serikat, tantangannya adalah mencegah kenaikan harga energi berubah menjadi inflasi yang lebih luas.
Kondisi tersebut menciptakan situasi yang rumit. Tekanan ekonomi dapat menjadi alat negosiasi bagi Washington, tetapi tekanan yang terlalu besar juga berpotensi memperpanjang ketidakstabilan kawasan dan meningkatkan harga energi global.
Dengan konflik yang belum menunjukkan penyelesaian permanen, harga minyak, kondisi Selat Hormuz, nilai tukar Iran dan kebijakan energi Amerika Serikat akan menjadi indikator penting dalam mengukur dampak ekonomi perang berikutnya.
Untuk saat ini, perang AS-Iran tidak lagi hanya soal serangan militer dan rudal. Dampaknya telah merembet ke SPBU, pasar energi, perdagangan, inflasi dan kehidupan masyarakat.
