IHSG Tertekan Perang AS-Iran, Minyak Tembus US$100 dan Rupiah Melemah
BREAKING Redaksi Tiga Media Apresiasi Bareskrim dan Polda Kepri dalam Kasus Blackout Batam, Desak Evaluasi Sistem Kelistrikan
Ekonomi · 11 Sep 2026 14:12

Perang AS-Iran Tekan IHSG, Harga Minyak Tembus US$100 dan Rupiah Ikut Tertekan

Oleh Administrator · 7 views · 3 menit baca

Perang AS-Iran Tekan IHSG, Harga Minyak Tembus US$100 dan Rupiah Ikut Tertekan
JAKARTA, URRANEWS — Konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran kembali mengguncang pasar keuangan global. Dampaknya terasa di Bursa Efek Indonesia (BEI), dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup anjlok 1,33 persen pada perdagangan Kamis, 10 September 2026.
IHSG berakhir di level 6.589,34, turun 88,86 poin dari posisi perdagangan sebelumnya. Pelemahan tersebut terjadi seiring meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, lonjakan harga minyak dunia dan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap inflasi serta arah suku bunga global. 
Pada perdagangan pagi, tekanan terhadap IHSG sebenarnya belum terlalu dalam. Sekitar pukul 09.55 WIB, indeks berada di 6.670,80 atau melemah 0,11 persen. Namun, tekanan semakin besar hingga penutupan perdagangan. �
Harga Minyak Jadi Alarm bagi Pasar
Salah satu transmisi utama konflik AS-Iran terhadap pasar saham adalah melalui harga minyak mentah.
Ketegangan di sekitar kawasan Teluk dan meningkatnya risiko gangguan distribusi energi melalui Selat Hormuz membuat investor memperhitungkan kemungkinan pasokan minyak dunia terganggu.
Harga Brent bahkan telah menembus US$100 per barel dan pada perkembangan terbaru bergerak jauh di atas level tersebut. Reuters melaporkan Brent sempat berada di sekitar US$104,79 per barel, sementara laporan pasar berikutnya menunjukkan harga Brent sempat menembus US$108. 
Kenaikan harga minyak menjadi masalah bagi negara dan perusahaan yang membutuhkan energi dalam jumlah besar. Biaya transportasi, produksi, distribusi dan logistik berpotensi meningkat apabila harga energi bertahan tinggi.
Kondisi tersebut kemudian memunculkan kembali kekhawatiran mengenai inflasi global.
Investor Khawatir Suku Bunga Tinggi Bertahan Lebih Lama
Lonjakan harga energi dapat memperbesar tekanan inflasi. Bagi pasar saham, kondisi ini menjadi perhatian karena bank sentral berpotensi mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama apabila inflasi kembali meningkat.
Di Amerika Serikat, tekanan tersebut sudah terlihat pada pasar obligasi. Imbal hasil Treasury AS 10 tahun mendekati 5 persen, sementara kenaikan harga minyak ikut memperkuat kekhawatiran bahwa inflasi belum sepenuhnya terkendali. 
Situasi tersebut membuat aset berisiko seperti saham menjadi kurang menarik bagi sebagian investor.
Investor kemudian cenderung melakukan strategi risk-off, yaitu mengurangi eksposur terhadap aset berisiko dan meningkatkan kepemilikan aset yang dianggap lebih aman.
Rupiah Ikut Mendapat Tekanan
Dampak berikutnya terasa di pasar valuta asing.
Ketika harga minyak meningkat, Indonesia sebagai negara yang masih membutuhkan impor energi menghadapi risiko kenaikan biaya impor. Pada saat yang sama, meningkatnya permintaan terhadap dolar AS ketika investor mencari aset yang dianggap lebih aman dapat memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah.
Pelemahan rupiah kemudian dapat meningkatkan biaya sejumlah barang dan bahan baku yang bergantung pada impor.
Kombinasi rupiah melemah, harga minyak naik dan risiko inflasi meningkat menjadi sentimen yang kurang menguntungkan bagi pasar saham domestik.
Tidak Semua Saham Tertekan Sama
Dampak konflik tidak dirasakan secara merata oleh seluruh sektor di BEI.
Perusahaan yang berkaitan dengan energi dan komoditas berpotensi memperoleh sentimen positif ketika harga minyak dan komoditas tertentu meningkat.
Sebaliknya, sektor seperti perbankan, konsumsi dan industri dapat menghadapi tekanan apabila investor memperkirakan biaya dana meningkat, daya beli masyarakat melemah atau aktivitas ekonomi melambat.
Namun, pergerakan masing-masing saham tetap bergantung pada fundamental perusahaan, struktur pendapatan, utang, eksposur valuta asing dan harga komoditas yang menjadi sumber pendapatannya.
IHSG Belum Lepas dari Risiko Geopolitik
Penurunan IHSG pada Kamis menunjukkan bagaimana cepatnya sentimen geopolitik berpindah dari konflik militer ke pasar keuangan.
Yang menjadi perhatian bukan hanya apakah terjadi serangan baru antara AS dan Iran, tetapi juga apakah konflik tersebut mengganggu rantai pasokan energi global dalam waktu panjang.
Jika gangguan energi berlangsung lebih lama, risiko inflasi akan semakin besar dan dapat memengaruhi keputusan bank sentral, nilai tukar, imbal hasil obligasi serta valuasi saham.
Sebaliknya, apabila ketegangan mereda dan jalur perdagangan energi kembali stabil, sebagian tekanan tersebut dapat berbalik dengan cepat.
Karena itu, investor domestik masih akan mencermati perkembangan konflik AS-Iran, harga minyak dunia, pergerakan rupiah dan arus modal asing sebagai sejumlah indikator penting untuk menentukan arah IHSG berikutnya.
Dengan penutupan di 6.589,34, IHSG kini berada di area yang menunjukkan tekanan cukup kuat. Namun, belum tepat menyimpulkan bahwa konflik AS-Iran merupakan satu-satunya penyebab penurunan indeks. Sentimen global, harga minyak, inflasi, suku bunga, nilai tukar dan kondisi pasar domestik secara bersamaan membentuk tekanan terhadap IHSG.