Laporan media internasional menyebutkan serangan terjadi pada Sabtu, 10 Oktober 2026, dengan dampak terhadap terminal penerbangan domestik. Aktivitas bandara sempat terganggu, sementara sejumlah penerbangan dibatalkan atau dialihkan.
Otoritas Arab Saudi menyebut korban berasal dari beberapa negara. Di antara korban tewas terdapat empat warga Arab Saudi dan seorang warga Amerika Serikat. Ratusan korban luka dilaporkan membutuhkan penanganan medis.
Reuters dan Associated Press melaporkan serangan tersebut sebagai bagian dari eskalasi konflik yang semakin mengancam keamanan penerbangan sipil di kawasan Teluk.
Trump Pertimbangkan Keterlibatan Militer AS
Serangan terhadap bandara Riyadh turut meningkatkan perhatian terhadap kemungkinan keterlibatan langsung Amerika Serikat dalam operasi militer bersama Arab Saudi.
Presiden AS Donald Trump menyatakan pemerintahannya sedang mengevaluasi perkembangan terbaru sebelum mengambil keputusan mengenai langkah berikutnya. Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengecam serangan terhadap fasilitas sipil.
Meski demikian, kemungkinan intervensi militer AS masih berupa pertimbangan. Belum dapat dipastikan bentuk maupun waktu tindakan yang akan diambil Washington.
Situasi ini menambah risiko konflik meluas, terutama karena kelompok Houthi memiliki hubungan dengan Iran dan telah melancarkan serangkaian serangan terhadap sasaran di Arab Saudi.
Ketegangan Meluas ke Jalur Strategis Bab al-Mandab
Konflik juga berlangsung di sekitar Selat Bab al-Mandab, jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan menjadi salah satu akses penting perdagangan internasional.
Pasukan yang mendukung pemerintah Yaman berupaya merebut wilayah pesisir yang dikuasai Houthi. Kedua pihak menyampaikan klaim berbeda mengenai perkembangan pertempuran dan penguasaan wilayah strategis tersebut.
Kondisi di sekitar Bab al-Mandab menjadi perhatian internasional karena gangguan keamanan di jalur itu berpotensi memengaruhi pelayaran komersial dan rantai pasok global.
PBB Peringatkan Risiko Krisis Kemanusiaan
Meningkatnya operasi militer di Yaman kembali menimbulkan kekhawatiran terhadap kondisi warga sipil. Konflik yang berlangsung bertahun-tahun telah memperburuk situasi kemanusiaan di negara tersebut.
Eskalasi lintas batas berisiko memperluas dampak perang, termasuk korban sipil, pengungsian, dan terganggunya akses terhadap kebutuhan dasar.
Perlindungan warga sipil dan pemulihan jalur diplomasi menjadi tantangan utama di tengah meningkatnya serangan dan ancaman pembalasan.
Perkembangan selanjutnya akan bergantung pada respons Arab Saudi, keputusan pemerintah Amerika Serikat, serta dinamika pertempuran antara kelompok Houthi dan pasukan yang mendukung pemerintah Yaman.
