Siswi tersebut adalah Febiola Purba (16), pelajar SMK di Berastagi. Ia dilaporkan mengalami kondisi kesehatan yang memburuk setelah menyantap makanan program MBG pada 13 Agustus 2026. Dalam perkembangan berikutnya, keluarga menyebut fungsi ingatannya mengalami penurunan hingga sekitar 70 persen. �
suara.com +1
Kasus tersebut mendapat perhatian DPR setelah kondisi korban dilaporkan tidak lagi sebatas keluhan akibat keracunan makanan pada fase awal. Wakil Ketua DPR RI Saan Mustopa meminta Badan Gizi Nasional (BGN) dan instansi terkait memberikan penanganan secara serius dan menyeluruh.
Menurut Saan, kondisi korban sudah berada pada tahap yang memprihatinkan sehingga pemerintah tidak boleh hanya menangani kasus pada tahap awal, tetapi harus memastikan korban memperoleh pemulihan kesehatan secara maksimal. �
detiknews +1
256 Pelajar Dilaporkan Mengalami Gangguan Kesehatan
Peristiwa dugaan keracunan tersebut terjadi pada 13 Agustus 2026. Sekitar 256 pelajar SMA dan SMK di Kecamatan Berastagi dilaporkan mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi menu MBG.
Keluhan yang dilaporkan antara lain gatal pada bagian mulut hingga sesak napas. Para siswa kemudian mendapatkan penanganan medis di sejumlah fasilitas kesehatan. �
suara.com
Febiola menjadi salah satu korban dengan perkembangan kondisi yang kemudian mendapat perhatian khusus. Setelah sempat menjalani perawatan, kondisinya kembali memburuk dan dilaporkan mengalami kejang serta gangguan fungsi kognitif.
Laporan mengenai gangguan ingatan tersebut juga menyebut Febiola telah menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit, termasuk RSUP H. Adam Malik Medan, untuk mendapatkan pemeriksaan lanjutan. Pihak sekolah juga mengonfirmasi bahwa korban menjalani pemeriksaan EEG untuk mengetahui kondisi aktivitas listrik otaknya. �
Readers.id
Penyebab Gangguan Saraf Masih Dikaji
Informasi mengenai penyebab pasti gangguan ingatan dan kondisi neurologis Febiola perlu ditempatkan secara hati-hati.
Sejumlah laporan menyebut dokter mempertimbangkan beberapa kemungkinan, termasuk infeksi bakteri maupun paparan racun jamur. Namun, hal tersebut tidak boleh langsung disimpulkan sebagai penyebab pasti sebelum hasil pemeriksaan medis dan investigasi resmi tersedia. �
Sumut Pos +1
Begitu pula dengan klaim bahwa korban mengalami “kerusakan saraf akibat racun makanan”. Pernyataan tersebut masih membutuhkan pembuktian medis yang lebih komprehensif.
Kondisi korban yang dilaporkan mengalami kejang dan gangguan ingatan memang menunjukkan persoalan kesehatan yang serius. Karena itu, pemeriksaan lanjutan oleh dokter spesialis menjadi bagian penting untuk mengetahui diagnosis serta penyebab sebenarnya.
DPR Desak Pemerintah Pastikan Biaya Pemulihan
Saan Mustopa juga menyoroti aspek pembiayaan. Ia meminta pemerintah, khususnya BGN dan pemerintah daerah, memastikan korban memperoleh pembiayaan pengobatan dan pemulihan secara layak.
Menurut Saan, perhatian tidak boleh berhenti ketika korban keluar dari rumah sakit. Jika korban membutuhkan perawatan lanjutan, pemerintah diminta memastikan proses tersebut tetap berjalan hingga kondisi kesehatannya membaik. �
suara.com +1
Desakan tersebut menjadi semakin penting karena keluarga korban harus menghadapi proses perawatan yang panjang. Dalam laporan mengenai kondisi Febiola, keluarga menyebut korban membutuhkan pemantauan serta terapi berkelanjutan.
Kasus Berpotensi Menjadi Evaluasi Besar Program MBG
Kasus di Karo kembali menempatkan aspek keamanan pangan sebagai salah satu tantangan penting dalam pelaksanaan program MBG.
Program yang menjangkau jumlah penerima sangat besar membutuhkan standar keamanan pangan yang ketat, mulai dari pemilihan bahan baku, proses penyimpanan, pengolahan, distribusi hingga makanan diterima dan dikonsumsi siswa.
Jika terbukti terdapat kelalaian dalam rantai penyediaan makanan, pemerintah perlu melakukan evaluasi dan mengambil tindakan sesuai hasil investigasi.
Untuk saat ini, penyebab pasti gangguan kesehatan yang dialami Febiola maupun pihak yang harus bertanggung jawab secara hukum masih harus menunggu hasil pemeriksaan dan proses penyelidikan.
Yang menjadi perhatian utama adalah memastikan korban mendapatkan penanganan medis terbaik dan biaya pemulihan yang tidak menjadi beban keluarga, sembari pemerintah mengusut secara menyeluruh dugaan keracunan yang dialami ratusan pelajar di Berastagi.
