Kunjungan Xi berlangsung di tengah hubungan AS-China yang masih diwarnai persaingan ekonomi, teknologi dan geopolitik. Kedua negara membahas sejumlah isu, termasuk perdagangan, kecerdasan buatan (AI), Taiwan dan hubungan strategis kedua negara.
BBC News Indonesia melaporkan bahwa Beijing ingin Washington tidak menghambat kebangkitan China sebagai kekuatan global, khususnya dalam perdagangan, teknologi dan persoalan Taiwan.
Gencatan Perang Dagang Hanya Diperpanjang Beberapa Bulan
Salah satu hasil penting dari pertemuan Trump dan Xi adalah perpanjangan gencatan perang dagang antara AS dan China.
Namun, perpanjangan tersebut hanya berlangsung selama dua bulan, dari November hingga Januari.
Kesepakatan itu belum menyelesaikan sejumlah persoalan utama yang selama ini menjadi sumber ketegangan kedua negara, termasuk tarif perdagangan, pembelian produk AS oleh China, pasokan mineral tanah jarang serta pembatasan teknologi.
Reuters melaporkan bahwa perpanjangan tersebut memberikan kedua negara tambahan waktu untuk melanjutkan negosiasi ekonomi.
Bagi Beijing, akses ke pasar internasional menjadi semakin penting di tengah tekanan terhadap konsumsi domestik China. Sementara itu, AS masih mempertahankan sejumlah kebijakan untuk membatasi akses China terhadap teknologi tertentu.
Taiwan Tetap Menjadi Persoalan Sensitif
Isu Taiwan juga kembali menjadi bagian penting dalam pembicaraan Trump dan Xi.
Xi meminta Amerika Serikat menangani persoalan Taiwan secara hati-hati dan mempertahankan posisi yang menurut Beijing menentang kemerdekaan Taiwan.
China menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya, sementara Taiwan memiliki pemerintahan sendiri. Amerika Serikat selama ini memiliki hubungan tidak resmi dengan Taiwan dan menyediakan dukungan pertahanan berdasarkan kebijakan serta kerangka hukum AS.
Dalam pertemuan tersebut, Xi kembali menyampaikan posisi Beijing mengenai Taiwan. ANTARA melaporkan bahwa isu Taiwan dibahas bersama persoalan Timur Tengah, hubungan ekonomi dan perkembangan AI.
Persaingan Teknologi dan AI
Selain perdagangan dan Taiwan, teknologi menjadi bidang lain yang memperlihatkan persaingan strategis AS-China.
Trump dan Xi membahas perkembangan kecerdasan buatan. Xi menyatakan pentingnya memastikan AI tetap berada di bawah kendali manusia.
Namun, belum terdapat informasi mengenai kesepakatan besar yang secara langsung menyelesaikan persaingan teknologi kedua negara.
Akses terhadap cip canggih buatan AS dan pembatasan teknologi menjadi salah satu isu yang masih harus dinegosiasikan lebih lanjut.
Sambutan Meriah di Gedung Putih
Di tengah persoalan tersebut, Xi mendapat sambutan kenegaraan yang cukup besar selama berada di Washington.
Trump menyambut Xi di Gedung Putih bersama Ibu Negara Melania Trump dan menggelar jamuan makan malam kenegaraan. Sejumlah tokoh bisnis dan teknologi Amerika juga hadir dalam acara tersebut.
Trump dalam sambutannya menggambarkan hubungan personalnya dengan Xi secara positif. Xi sendiri menyerukan agar China dan AS membangun hubungan sebagai mitra, bukan rival.
Kunjungan tersebut juga menjadi perjalanan Xi ke Amerika Serikat untuk pertama kalinya dalam lebih dari satu dekade.
Persaingan Tetap Berlangsung di Balik Diplomasi
Pertemuan Trump dan Xi memperlihatkan adanya upaya mempertahankan stabilitas hubungan kedua negara, tetapi sejumlah persoalan strategis belum terselesaikan.
Perdagangan, tarif, mineral tanah jarang, teknologi, AI dan Taiwan masih menjadi isu yang membutuhkan pembicaraan lanjutan.
Dengan perpanjangan gencatan perang dagang hanya sampai Januari, perkembangan hubungan Washington-Beijing dalam beberapa bulan ke depan akan kembali ditentukan oleh hasil negosiasi berikutnya.
Di tengah seremoni kenegaraan dan pernyataan mengenai hubungan yang lebih stabil, persaingan strategis antara dua negara ekonomi terbesar dunia tersebut tetap menjadi bagian penting dalam hubungan AS-China.
